



[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan delapan Guru Besar baru yang berasal dari Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Teknologi Industri Pertanian, serta Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada Sidang Terbuka Pengukuhan Guru Besar yang dilaksanakan di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Bandung, pada Selasa, 8 Desember 2025. Pengukuhan jabatan dibuka oleh Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita dengan kata pengantar oleh Ketua Dewan Profesor Unpad, Prof. Atwar Bajari.
Delapan guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Hendi Setiyatwan, M.Si. IPM., Prof. Dr. Ir. Jajang Gumilar, S.Pt., M.M., IPM., Prof. Fitri Widiantini, S.P., MBtS., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Dini Rochdiani, MP., Prof. Dr. Lastuti Abubakar, S.H., M.H., Prof. Dr. Ir. Sarifah Nurjanah, M.App.Sc., IPM., ASEAN Engineer., Prof. Dr. Helza Nova Lita, S.H., M.H., dan Prof. Alexander M.A. Khan, S.Pi., M.Si., Ph. D.
Guru Besar bidang Nutrisi Mineral Unggas, Prof. Dr. Ir. Hendi Setiyatwan, M.Si., IPM., memaparkan keilmuan yang berjudul “Methoda Pengembangan Ikatan Komplek Mineral Zn, Cu, dan Asam Amino Metionin untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh, Efisiensi Penggunaan Energi dan Pemacu Pertumbuhan”. Dalam penelitiannya, Prof. Hendi mengembangkan ikatan komplek mineral Zn, Cu, dan asam amino metionin dengan teknologi biofermentasi. Aplikasi senyawa tersebut terbukti meningkatkan efisiensi konsumsi dan konversi pakan, meningkatkan pertambahan bobot badan, menurunkan kadar kolesterol daging, serta meningkatkan daya ikat air daging.
“Untuk menjaga keberlanjutan dan daya saing industri perunggasan nasional, diperlukan inovasi yang berkelanjutan dalam aspek nutrisi dan efisiensi produksi. Salah satu respon bidang nutrisi adalah dengan memanfaatkan mineral mikro di antaranya adalah Zn dan Cu.,” ujar Prof. Hendi.
Sementara Guru Besar bidang Ilmu dan Teknologi Pengolahan Hasil Ikutan Peternakan, Prof. Dr. Ir. Jajang Gumilar, S.Pt., M.M., IPM., menjelaskan paparan ilmiah berjudul “Transformasi Hasil Ikutan Ternak dan Indikator Alami sebagai Bahan Pengemas Pintar Ramah Lingkungan”. Penelitian Prof. Jajang berfokus pada transformasi hasil ikutan ternak menjadi biopolymer gelatin yang kemudian dikembangkan sebagai kemasan pintar ramah lingkungan, dengan penambahan pigmen alami untuk mendeteksi kesegaran pangan secara real-time. Inovasi ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan plastik sintetis, menekan limbah peternakan, serta meningkatkan keamanan pangan melalui sistem kemasan yang dapat berubah warna mengikuti kondisi produk.
“Dengan memadukan material kemasan yang biodegradable (berasal dari hasil ikutan ternak) dengan indikator yang non-toksik (berasal dari ekstrak pigmen alami), dimungkinkan untuk menciptakan sistem kemasan yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga fungsional dan informatif,” papar Prof. Jajang.
Guru Besar Bidang Ilmu Keragaman Mikroba Penyakit Tumbuhan, Prof. Fitri Widiantini, S.P., MBtS., Ph.D., memberikan paparan ilmiah berjudul “Keragaman Mikroba: Peluang dan Tantangan dalam Proteksi Tanaman Berkelanjutan”. Prof. Fitri meneliti pemanfaatan keragaman mikroba menguntungkan sebagai agens pengendali hayati untuk mendukung proteksi tanaman yang berkelanjutan. Mikroba seperti bakteri endofit dan mikroba dari rizosfer terbukti mampu menekan pertumbuhan patogen utama pada tanaman pangan, sekaligus meningkatkan penyerapan nutrisi tanaman.
“Keberlanjutan proteksi tanaman di masa depan harus dibangun melalui integrasi ilmu mikrobiologi, ekologi patogen, teknologi omik, formulasi agens hayati, serta praktik budidaya yang ramah lingkungan. Dengan mengelola peluang dan tantangan ini secara seimbang, kita dapat membangun sistem pertanian yang lebih resilien dan berkelanjutan,” jelas Prof. Fitri.
Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Pertanian dan Daya Saing Usahatani Berkelanjutan Pemberdayaan Petani dan Pengembangan Masyarakat, Prof. Dr. Ir. Dini Rochdiani, MP., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Daya Saing Pertanian Indonesia dalam Arus Perdagangan Global: Perspektif Ekonomi, Lingkungan dan Kebijakan”. Penelitian Prof. Dini menegaskan bahwa daya saing pertanian Indonesia masih bertumpu pada komoditas perkebunan dan rempah yang berkeunggulan tinggi di pasar global, namun masih lemah pada komoditas pangan strategis. Maka dari itu, sektor pertanian perlu meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan keberlanjutan, serta didukung kebijakan ekspor yang mampu memperluas akses pasar internasional.
“Penguatan daya saing pertanian Indonesia membutuhkan strategi terpadu yang mencakup peningkatan produktivitas melalui inovasi teknologi, penerapan pertanian berkelanjutan, serta diplomasi perdagangan yang agresif untuk memperluas pasar global,” papar Prof. Dini.
Sedangkan Guru Besar bidang Hukum Ekonomi Lingkungan, Prof. Dr. Lastuti Abubakar, S.H., M.H. menjelaskan keilmuan berjudul “Pendekatan Hukum Partisipatif sebagai Landasan Pembangunan Hukum Ekonomi Lingkungan untuk Mewujudkan Ekonomi yang Berkelanjutan dan Berkeadilan”. Dalam penelitiannya, Prof. Lastuti membahas mengenai pendekatan hukum partisipatif sebagai dasar pembangunan hukum ekonomi lingkungan untuk mewujudkan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan di Indonesia. Pendekatan ini didasari integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam aktivitas ekonomi, serta menempatkan lingkungan sebagai subjek hukum yang berhak atas perlindungan dan pemulihan.
“Perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan, melainkan realitas yang dihadapi saat ini. Oleh karena itu, integrasi dan partisipasi lingkungan dan sosial menjadi sangat penting untuk mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan,” jelas Prof. Lastuti.
Guru Besar bidang Ilmu Pascapanen dan Teknologi Proses, Prof. Dr. Ir. Sarifah Nurjanah, M.App.Sc., IPM., ASEAN Engineer., memaparkan keilmuan yang berjudul “Emerging Technology dalam Ekstraksi Minyak Atsiri: Peluang dan Tantangan”. Prof. Sarifah mengatakan bahwa perkembangan emerging technology dalam ekstraksi minyak atsiri menjawab kebutuhan industri akan proses yang lebih efisien, berkualitas tinggi, dan ramah lingkungan. Tiga teknologi modern (microwave-assisted extraction, ultrasound-assisted extraction, dan supercritical fluid extraction) ditawarkan sebagai solusi untuk meningkatkan daya saing produk minyak atsiri Indonesia di pasar global.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, industri, dan pemerintah sangat diperlukan untuk memastikan teknologi ini dapat diimplementasikan secara luas dan efektif. Adopsi teknologi tidak hanya bergantung pada keunggulan ilmiahnya, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukungnya,” ujar Prof. Sarifah.
Lebih lanjut, Guru Besar bidang Hukum Ekonomi Syariah, Prof. Dr. Helza Nova Lita, S.H., M.H., memberikan paparan ilmiah berjudul “Pengelolaan Wakaf Produktif Berbasis Perusahaan”. Dalam penelitiannya, Prof. Helza menjelaskan pentingnya pengelolaan wakaf secara produktif dengan pendekatan korporasi untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional. Melalui model corporate waqf, aset wakaf dapat dikelola secara profesional dan berkelanjutan oleh perusahaan dengan good corporate governance, akan berpotensi menjadi instrumen pemerataan ekonomi, pengentasan kemiskinan, serta pendukung pendidikan dan infrastruktur.
“Jika pengelolaan wakaf dilakukan benar-benar sesuai dengan apa yang telah digariskan menurut hukum Islam maupun UU Wakaf, wakaf akan benar-benar memberikan kontribusi yang besar bagi upaya mewujudkan keadilan sosial, khususnya bidang ekonomi,” jelas Prof. Helza.
Guru Besar bidang Ilmu Perikanan, Prof. Alexander M.A. Khan, S.Pi., M.Si., Ph. D., menjelaskan keilmuannya berjudul “Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelanjutan di Indonesia: Tantangan, Hambatan, dan Solusi bagi Bangsa”. Prof. Alexander menyoroti pentingnya pengelolaan perikanan tuna berkelanjutan di Indonesia sebagai negara produsen tuna terbesar dunia. Meskipun memiliki potensi ekonomi tinggi, sektor ini masih menghadapi tantangan serius seperti praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing, penggunaan rumpon yang tidak terkelola, lemahnya kualitas data, serta tuntutan standar keberlanjutan pasar internasional. Maka dari itu, untuk menjamin kelestarian stok tuna dan meningkatkan kesejahteraan nelayan, solusi diarahkan pada penguatan tuna governance.
“Perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai penggerak ilmu pengetahuan dan inovasi kebijakan. Bentuk nyata dari peran ini adalah pelaksanaan pilot project pengelolaan tuna berbasis wilayah, pelatihan teknis bagi nelayan dan aparat daerah, dan dukungan terhadap penyusunan kebijakan berbasis bukti bersama pemerintah, pelaku industri, serta masyarakat,” ujar Prof. Alexander.*
Buku Paparan Keilmuan:
- Prof. Dr. Ir. Hendi Setiyatwan, M.Si. IPM.
- Prof. Dr. Ir. Jajang Gumilar, S.Pt., M.M., IPM.
- Prof. Fitri Widiantini, S.P., MBtS., Ph.D.
- Prof. Dr. Ir. Dini Rochdiani, MP.
- Prof. Dr. Lastuti Abubakar, S.H., M.H.
- Prof. Dr. Ir. Sarifah Nurjanah, M.App.Sc., IPM., ASEAN Engineer.
- Prof. Dr. Helza Nova Lita, S.H., M.H.
- Prof. Alexander M.A. Khan, S.Pi., M.Si., Ph. D.









(Foto oleh: Dadan Triawan dan Jalasenastri Saprala)*
The post Universitas Padjadjaran Kukuhkan Delapan Guru Besar Baru dari Lima Fakultas appeared first on Universitas Padjadjaran.
