
[Kanal Media Unpad] Di tengah riuh geliat Marine Actions Expo (MAX) 2026 ajang pameran dan konferensi kelautan bertaraf nasional yang dilaksanakan di Balai Kartini Jakarta pada Sabtu 25 April 2026, satu sesi talkshow mencuri perhatian. Bukan karena gemerlap panggungnya, melainkan karena bobot pesannya. Donny Juliandri Prihadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D., CBEc Tour, Associate Professor Marine Ecotourism, Departemen Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran, berdiri pada main stage di hadapan ratusan peserta dan melontarkan satu pertanyaan yang menghantam, “apakah kita membangun pariwisata untuk hari ini, atau untuk lima puluh tahun ke depan?”
Donny bukan nama baru di dunia kelautan Indonesia. Ia menempuh S1 Manajemen Sumberdaya Perairan di Universitas Padjadjaran, melanjutkan S2Coastal Zone Management di Bournemouth University, Inggris, dan meraih gelar doktor bidang Tourism Management dari Ocean University of China, salah satu institusi kelautan paling bergengsi di dunia. Perjalanan akademiknya di tiga benua itulah yang membentuk sudut pandangnya: tajam, berbasis data, namun tetap membumi.
Dalam paparannya bertajuk “Coastal Ecosystem untuk Blue Tourism dalam Mencapai Sustainable Tourism”, narasumber Donny terlebih dahulu mengajak peserta untuk memahami pentingnya tiga ekosistem pesisir utama yang menjadi fondasi dari seluruh gagasan yang ia sampaikan, yaitu mangrove, terumbu karang, dan padang lamun. Ketiga ekosistem ini, menurutnya, kerap dipandang hanya sebagai latar pemandangan indah bagi wisatawan, padahal fungsinya jauh lebih penting dari sekadar estetika.
Mangrove misalnya, memiliki kemampuan menyerap karbon empat kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Terumbu karang terbukti secara ilmiah mampu meredam energi gelombang laut hingga 97 persen, sehingga berperan langsung dalam melindungi garis pantai dari ancaman abrasi dan kenaikan muka laut akibat perubahan iklim. Adapun padang lamun menyimpan cadangan karbon di lapisan sedimennya dalam jangka waktu yang sangat panjang, bahkan bisa mencapai ribuan tahun.
Donny menegaskan bahwa kesehatan ketiga ekosistem ini bukan hanya soal kelestarian alam, tetapi juga menjadi prasyarat langsung bagi keberlangsungan dan daya tarik pariwisata laut itu sendiri. Ekosistem yang rusak akan menghasilkan destinasi yang kehilangan daya pikat, dan pada akhirnya merugikan semua pihak, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Donny membuka mata peserta dengan angka-angka yang seharusnya membanggakan sekaligus mengkhawatirkan. Indonesia memiliki 17.466 pulau, garis pantai sepanjang 95.000 kilometer, mangrove terluas di dunia seluas 3,44 juta hektare, dan terumbu karang seluas 51.000 km2 yang mengalahkan Great Barrier Reef Australia. Bahkan, 70% cadangan karbon biru di dunia tersimpan di bumi Nusantara. Namun dalam satu dekade terakhir, mangrove manyusut hampir 195.000 hektare dan 30 hingga 40 persen terumbu karang nasional kini dalam kondisi rusak. “Inilah mengapa kita tidak bisa lagi berbisnis seperti biasa,” tegasnya.
Ia menyebut mangrove, terumbu karang, dan padang lamun sebagai “trilogi karbon biru” yang menjadi tulang punggung pariwisata bahari Indonesia. Mangrove dengan akar Rhizopora-nya yang khas seperti ceker ayam berfungsi sebagai tempat pemijahan, pembesaran, dan pencarian makan bagi ratusan biota laut, sekaligus menyerap karbon empat kali lebih besar dari hutan daratan tropis. Padang lamun, yang kerap keliru disebut alga, adalah rumah bagi duyung dan penyu. Terumbu karang sebagai rumah bagi ratusan biota laut yang juga berfunsgi sebagai nursery, feeding dan spawning ground. Khususnya, ekosistem terumbu karang dalam kerangka Coral Triangle Initiative yang menempatkan Indonesia sebagai pusatnya, bukan sekedar kekayaan alam melainkan infrastruktur wisata bahari yang tidak bisa digantikan.
Angka bicara keras, Great Barrier Reef menyumbang AUD 6,4 miliar per tahun bagi perekonomian Australia, di mana 90 persennya bertumpu pada kesehatan ekosistemnya. Di Kepulauan Seribu, lokasi dengan tutupan karang hidup di atas 50 persen mendatangkan tiga kali lebih banyak wisatawan dibanding yang rusak.
“Seekor ikan karang yang hidup nilainya jauh lebih besar daripada jika ia mati di restoran,” ujar Donny.
Pesannya jelas, menjaga laut bukan pilihan moral semata tetapi itu adalah strategi ekonomi. Dan Indonesia, dengan segala kekayaan yang dimilikinya, seharusnya memimpin, bukan sekadar ikut. Pertanyaannya bukan apakah ekosistem kita cukup untuk berharga untuk dijaga. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup bijak untuk tidak menyia-nyiakan warisan terbsesar yang pernah dimiliki bangsa ini?* (Rilis oleh: Dwima Alvionita Rivasta/FPIK)
Sumber: https://fpik.unpad.ac.id/max2026-marinetourism-fpikunpad/
The post Urgensi Ekosistem Pesisir sebagai Fondasi Pariwisata Bahari Berkelanjutan appeared first on Universitas Padjadjaran.
