



[Kanal Media Unpad] Setidaknya ada empat nilai yang terkandung di dalam bulan suci Ramadan sebagai suatu madrasah atau sekolah yang mengasah serta mempertajam akal dan hati nurani. Ibadah Ramadan, salah satunya berpuasa, memberikan nilai pembinaan yang sangat dalam, yaitu mengokohkan dan memantapkan ketakwaan kepada Allah Swt.
“Idulfitri mengajarkan kepada kita bahwa setelah setiap latihan, ada tugas. Setelah setiap ibadah, ada tanggung jawab, dan setelah setiap Ramadan, ada kehidupan nyata yang harus dihadapi,” ujar Dr. H. Ade Kosasih, M.Ag., dosen Fakultas Ilmu Budaya Unpad, saat menjadi khatib dan imam pada pelaksanaan salat Idulfitri 1447 Hijriah di Lapangan Parkir Utara Unpad, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Sabtu 21 Maret 2026.
Nilai pertama dari madrasah Ramadan adalah takwa merupakan kompas kehidupan. Tujuan terbesar puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk manusia yang bertakwa. Nilai takwa akan menjaga manusia ketika tidak ada yang melihatnya, nilai takwa mengingatkan manusia ketika kekuasaan berada di tangannya, dan nilai takwa akan menahan manusia dari ketiga godaan dunia yang datang kepadanya.
“Jika nilai taqwa ini tetap hidup setelah Ramadan, maka ia akan menjadi kompas dalam kehidupan kita, sehingga diri kita terjaga dari perbuatan zalim, khianat, kemungkaran dan kemaksiatan,” ujar Dr. Ade Kosasih.
Nilai kedua dari madrasah Ramadan adalah kesabaran dan ketahanan menghadapi dunia yang tidak pasti. Puasa mendidik kita menjalani hari-hari itu dengan kesabaran. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita menahan lapar, menahan dahaga, menahan emosi, dan menahan keinginan diri. Latihan ini bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan untuk membangun ketahanan jiwa.
“Banyak manusia menjadi gelisah karena merasa hidupnya tidak stabil dan masa depan tampak tidak pasti. Namun seorang mukmin yang lulus menempuh madrasah Ramadan tidak mudah panik menghadapi perubahan zaman, karena Ramadan telah mengajarkan satu prinsip besar dalam kehidupan: kesabaran adalah kekuatan,” ujar Dr. Ade Kosasih yang juga merupakan dosen Sastra Arab Unpad.
Nilai Ketiga dari madrasah Ramadan adalah puasa menumbuhkan solidaritas sosial. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang merasakan lapar yang dialami oleh orang lain. Ketika seorang mukmin menahan lapar sepanjang hari, ia sedang belajar memahami penderitaan orang yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Hal itu terbukti dengan rangkaian akhir dari ibadah puasa adalah membayar zakat fitrah yang pendistribusiannya diperuntukkan bagi konsumsi orang-orang miskin. Demikian juga dengan infak dan sedekah lainnya.
“Ramadan mengajarkan bahwa masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang paling kaya, tetapi masyarakat yang paling peduli satu sama lain. Kita dapat melihat teladan yang sangat indah dalam kehidupan para sahabat Nabi,” ujarnya.
Nilai Keempat dari Madrasah Ramadhan adalah kedekatan dengan Allah SWT sebagai sumber ketenangan. Ketika seorang mukmin berpuasa, ia menahan dirinya bukan karena manusia melihatnya, tetapi karena ia sadar bahwa Allah melihatnya. Inilah yang menumbuhkan rasa kedekatan dengan Allah.
Manusia modern hari ini hidup dalam dunia yang sangat maju secara teknologi. Informasi datang tanpa henti. Perubahan terjadi begitu cepat. Namun, di balik kemajuan itu, banyak manusia merasa gelisah, kosong, dan kehilangan ketenangan karena hidup jauh dari Allah Swt.
“Ramadan telah mendidik kita untuk memperbanyak doa, zikir, dan istighfar. Ramadan telah melatih kita bangun di sepertiga malam untuk bermunajat kepada Allah. Maka setelah Ramadan, jangan biarkan hubungan kita dengan Allah menjadi jauh Kembali,” ujar Dr. Ade Kosasih yang saat ini menjabat Ketua Program Studi Sastra Arab Unpad.
Sementara pada saat yang bersamaan di Masjid Raya Unpad Jatinangor, Prof. Yudi Nurul Ihsan bertindak sebagai imam dan khatib pelaksanaan salat Idulfitri. Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad ini membawakan tema khutbah berjudul “Rasulullah Teladan untuk Meraih Kemenangan dan Kejayaan”.
Prof. Yudi mengajak kita merenung dan mengevaluasi diri, apa yang kita lakukan setelah melalui bulan suci Ramadan. Apakah kita sudah mengoptimalkan berbagai macam ibadah di bulan Ramadan, baik yang wajib maupun sunat, serta apakah kita keluar dari kawah candradimuka bulan mulia Ramadan ini sebagai ksatria digjaya yang berhasil berhadapan dengan hawa nafsu, menjadi pribadi yang berbalung besi, berhati baja yang terus berada di barisan para tentara Allah Swt?
Diutusnya Rasulullah SAW oleh Allah SWT ke dunia tidak lain adalah untuk mengajak manusia berpindah dari jaman kegelapan menuju jaman yang terang benderang. Prof. Yudi mengungkapkan, ada 5 hal yang dilakukan Rasulullah, cukup sederhana tetapi mencakup segala aspek kehidupan.
Pertama, islahul `aqiedah, yaitu memperbaiki Aqidah serta menanamkan jiwa Tauhid yang benar kepada seluruh umat manusia. Kedua, islahul ‘ibadah, yakni memperbaiki serta menanamkan kesadaran beribadah kepada Allah SWT. Ketiga, islahul mu’amalah, yakni memperbaiki pergaulan hidup di antara sesama umat manusia sekaligus menanamkan solidaritas yang kuat serta menciptakan akhlak yang mulia. Keempat, islahul ma’iisah, yakni memperbaiki dan meningkatkan sosial ekonomi umat manusia. Dan kelima, islahud daulah, yaitu memberi pedoman kepada seluruh umat manusia untuk memperbaiki kehidupan bernegara.
“Oleh sebab itu sebagai seorang muslim sejati, kita harus mampu mencetak kader-kader bangsa yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, sehingga harapan kita untuk menciptakan baldatun thoyyibatun warbbun ghafur serta keluar dari lilitan krisis yang berkepanjangan ini dapat tercapai dengan baik sesuai amanat Rasulullah SAW. Amien,” ujar Prof. Yudi yang pernah menjabat sebagai Dekan FPIK Unpad.*



The post Ramadan Adalah Madrasah Menuju Peradaban Lebih Baik appeared first on Universitas Padjadjaran.
