



[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan tujuh Guru Besar baru yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, serta Fakultas Ilmu Komunikasi pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Kamis, 4 Desember 2025. Pengukuhan tersebut dibuka oleh Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dan kata pengantar oleh Ketua Dewan Profesor Unpad, Prof. Atwar Bajari.
Guru besar yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Dr. Drs. Asep Sumaryana, M.Si., Prof. Dr. Fitrilawati, M.Sc., Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., S.H., M.Si., Prof. Jamaludin Al-Anshori, S.Si., M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Drs. Heru Nurasa, MA., Prof. Dr. Arianis Chan, S.I.P., M.Si., dan Prof. Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR.
Guru Besar bidang Lingkungan Organisasi Publik, Prof. Dr. Drs. Asep Sumaryana, M.Si., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Pengelolaan Lingkungan Menuju Efektivitas Organisasi”. Prof. Asep memaparkan bahwa lingkungan organisasi, khususnya organisasi publik merupakan aspek penting yang tidak dapat diabaikan karena aspek tersebut turut mewarnai setiap langkah dan kebijakan yang ada dalam suatu organisasi. Oleh karena itu, kompetensi pengelola untuk menggerakkan organisasi publik menjadi penting agar harmonisasi dalam organisasi dapat diciptakan.
“Organisasi dan lingkungannya harus dipersandingkan agar sinergi membangun organisasi bisa terwujud, sehingga sensitivitas organisasi untuk mendengar menjadi penting agar mampu merekam nasib publiknya dan mengomunikasikan dengan para stakeholder agar negeri yang baik dapat segera tercapai. Kompetensi leadership menjadi aspek penting agar para pihak terkait didorong bekerja berbasiskan integritas, etika, dan teknis,” ujar Prof. Asep
Guru Besar bidang Fisika Lingkungan, Prof. Dr. Fitrilawati, M.Sc., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Fisika Lingkungan dan Teknologi Material untuk Konversi Karbon Dioksida Guna Mengurangi Emisi Karbon”. Prof. Fitrilawati menjelaskan bahwa secara alami efek rumah kaca diperlukan untuk menjaga suhu bumi agar tetap stabil, tetapi peningkatan CO2 akibat aktivitas manusia telah memperkuat efek ini secara berlebihan, khususnya sejak era revolusi industri dari sektor energi berbasis batu bara, minyak, dan gas alam.
“Salah satu solusi inovatif untuk menurunkan emisi karbon adalah teknologi Carbon Capture and Storage. Selain menurunkan emisi, pendekatan ini juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan material maju dan industri hijau. Fokus utama penelitiannya adalah pengembangan bahan untuk aplikasi lingkungan terutama pemurnian air dan carbon capture, serta bahan untuk mereduksi dan mengkonversi CO2 menjadi senyawa yang bermanfaat. Pengembangan ini akan dilanjutkan mengingat di Indonesia memerlukan teknologi untuk menurunkan emisi karbon, selain solusi fundamental, agar dapat mencapai zero emission pada tahun 2050,” kata Prof. Fitrilawati.
Guru Besar bidang Jurnalistik dan Kajian Media, Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., S.H., M.Si., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Keberlanjutan Media dan Jurnalisme Berkualitas”. Prof. Dadang menyampaikan bahwa tantangan dan ancaman bagi keberlanjutan media terkait dengan perilaku khalayak dalam mengkonsumsi media. Profesi jurnalis sendiri terancam dengan kehadiran media baru dan teknologi AI, yang membedakan tentu adalah pada spirit atas nilai-nilai jurnalisme berkualitas yang kredibel tanpa terjebak rating, adsense dan hal ekploitatif lainnya.
“Jika media dan jurnalisme berkualitas masih menjadi kebutuhan dan diharapkan keberadaannya, maka suatu keharusan dilakukan secara bersama, setidaknya dalam pendekatan pentahelix antara pemerintah, akademisi, industri bisnis, media dan masyarakat. Dalam konteks kebangsaan, keberlanjutan media dengan jurnalisme yang berkualitas harus mampu menjadi bagian bagi keberlanjutan dan ketahanan bangsa yang diwarnai oleh ketahanan komunikasi yang berdaulat,” jelas Prof. Dadang.
Guru Besar bidang Ilmu Kimia Organik, Prof. Jamaludin Al-Anshori, S.Si., M.Sc., Ph.D., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Sintesis Senyawa Organik Fungsional Dalam Bidang Kesehatan, Sensor, Fotokimia, dan Makromolekul”. Prof. Jamaludin memaparkan bahwa sintesis senyawa organik memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia dan menjadi fondasi utama dalam berbagai bidang. Faktanya saat ini Indonesia masih ketergantungan pada impor bahan baku tertentu, serta keterbatasan infrastruktur, efisiensi energi, dan persaingan global dari negara produsen besar.
“Kita berharap dan optimis, bahwa dalam waktu yang dekat capaian riset dunia akademik dapat dimanfaatkan dengan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa dan dunia. Sintesis senyawa organik fungsional pada skala laboratorium adalah media para ilmuwan dapat menemukan senyawa baru dan sebagai media validasi konsep teoritis. Penerapan lebih lanjut hasil skala lab dengan efisiensi ekonomi proses dan keberlanjutannya sangat penting dilakukan pada skala industri, agar dapat memberikan dampak kebermanfaatan yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Prof. Jamaludin.
Guru Besar bidang Ecosystem Organisasi Publik, Prof. Dr. Drs. Heru Nurasa, MA., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Ekosistem Organisasi Dalam Pembangunan Inklusif di Perdesaan”. Prof. Heru menjelaskan bahwa pembangunan inklusif adalah proses pembangunan yang memastikan seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat pembangunan. Dalam rangka mewujudkan pembangunan inklusif di perdesaan, diperlukan ekosistem organisasi yang sesuai dengan tantangan dan dinamika di wilayah perdesaan yang ada saat ini dan di masa depan.
“Pembangunan inklusif di perdesaan adalah cermin dari kemajuan sosial bangsa kita. Tanpa inklusi, pembangunan hanya akan memperlebar jurang sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, membangun ekosistem organisasi publik yang kolaboratif, mendorong co-creation dan co-production, serta mengatasi asimetris kekuasaan, pengetahuan, dan sumber daya adalah syarat mutlak agar pembangunan desa benar-benar berkeadilan. Mari kita bersama membangun sistem organisasi yang tidak hanya bekerja untuk masyarakat, tetapi bekerja bersama masyarakat,” jelas Prof. Heru.
Guru Besar bidang Ilmu Strategi Pemasaran, Prof. Dr. Arianis Chan, S.I.P., M.Si., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Strategi Pemasaran untuk Konsumen Reflektif di Era Kapitalisme Algoritmik”. Prof. Arianis memaparkan bahwa berbagai riset tentang perilaku konsumen menegaskan bahwa edukasi saja tidak cukup untuk mengubah perilaku konsumen. Oleh karena itu, perubahan perilaku tidak dapat bertumpu pada edukasi semata, melainkan juga pada desain pilihan yang memudahkan tindakan yang lebih bijak.
“Strategi pemasaran kini bukan lagi sekadar strategi fungsional, tetapi menjadi kompas yang menentukan arah organisasi di tengah kapitalisme algoritmik. Masa depan pemasaran tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling keras menjual, tetapi oleh siapa yang paling mampu menjaga kejernihan kesadaran konsumen dan membimbing mereka pada pilihan yang lebih baik dan bertanggung jawab. Strategi pemasaran juga memegang peran strategis dalam menjaga keberlanjutan, bukan hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat dan dunia,” ujar Prof. Arianis.
Guru Besar bidang Hubungan Internasional, Prof. Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Dinamikan Keamanan di Kawasan Indo Pasifik: Rivalitas Geopolitik dan Ancaman Kontemporer di Abad ke-21”. Prof. Arfin menjelaskan bahwa kawasan Indo-Pasifik adalah kawasan strategis global yang memadukan laut Hindia dan Pasifik, bukan hanya sebagai jalur geografi, melainkan sebagai ruang geopolitik, ekonomi, dan keamanan yang kompleks. Evolusi dari istilah Asia–Pasifik ke Indo-Pasifik mencerminkan transformasi paradigma keamanan global dan pergeseran orientasi kebijakan luar negeri.
“Dinamika keamanan di kawasan ini melibatkan berbagai ancaman tradisional (persaingan kekuatan besar, sengketa maritim, potensi konflik militer) dan non-tradisional (keamanan manusia, lingkungan, ekonomi, migrasi). Negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia, menghadapi dilema dan tantangan besar, tetapi juga peluang untuk membentuk tatanan keamanan yang lebih stabil, inklusif, dan adil. Oleh karena itu, analisis keamanan di Indo-Pasifik tidak bisa bersifat sempit atau parsial: dibutuhkan pendekatan komprehensif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan geopolitik, ekonomi, lingkungan serta tantangan global abad ke-21,” jelas Prof. Arfin.
Buku Paparan Keilmuan:
- Prof. Dr. Drs. Asep Sumaryana, M.Si.
- Prof. Dr. Fitrilawati, M.Sc.
- Prof. Dr. Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., S.H., M.Si.
- Prof. Jamaludin Al-Anshori, S.Si., M.Sc., Ph.D.
- Prof. Dr. Drs. Heru Nurasa, MA.
- Prof. Dr. Arianis Chan, S.I.P., M.Si.
- Prof. Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR.









(Foto oleh: Dadan Triawan dan Jalasenastri Saprala)*
The post Universitas Padjadjaran Kukuhkan Tujuh Guru Besar Baru dari Tiga Fakultas appeared first on Universitas Padjadjaran.
