
Para peneliti Indonesia dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Indonesia (UI), dan Oxford University Clinical Research Unit (OUCRU) Indonesia telah menyelesaikan uji klinik HARVEST (High Dose Oral Rifampicin to Improve Survival from Adult Tuberculous Meningitis), suatu uji klinik multisenter terbesar yang pernah dilakukan untuk Meningitis Tuberkulosis (TB). Penelitian ini melibatkan institusi riset dari berbagai negara: Indonesia, Uganda, Afrika Selatan, Belanda, dan Amerika Serikat.
Meningitis TB adalah penyakit TB yang menyerang selaput otak dan juga jaringan otak, suatu bentuk penyakit TB terberat, umumnya menyerang anak-anak dan orang dewasa muda. Jika tidak diobati, orang dengan penyakit ini akan meninggal dunia. Dengan pengobatan yang ada saat ini, sekitar satu dari tiga orang pasien akan meninggal dan jika bertahan hidup umumnya mengalami kecacatan. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah memberikan pengobatan yang lebih tepat. Sampai saat ini, pengobatan Meningitis TB masih mengikuti pola pengobatan TB paru (jenis obat, dosis, dan lama pengobatan), padahal lokasi dan organ yang sakit berbeda. Jaringan otak dilindungi oleh mekanisme khusus yang membuat obat TB sulit menembus selaput otak untuk sampai ke dalam jaringan otak. Banyak upaya sudah dilakukan untuk memperbaiki hasil akhir pengobatan, salah satunya adalah dengan meningkatkan dosis obat rifampisin – salah satu obat utama dalam pengobatan TB – untuk membuat lebih banyak obat yang bisa masuk ke jaringan otak.
Sejak tahun 2010, tim peneliti dari Unpad bekerjasama dengan Radboudumc, Belanda, telah melakukan serangkaian penelitian mengeksplorasi penggunaan rifampisin dosis lebih tinggi untuk pengobatan Meningitis TB yang lebih baik. Uji klinik awal yang dilakukan dalam skala lebih kecil (uji klinik fase 2) memperlihatkan bahwa penggunaan rifampisin dosis tinggi berpotensi menyelamatkan nyawa orang yang sakit Meningitis TB (hasilnya sudah dipublikasi di Lancet Infectious Disease, 2013). Temuan ini telah memicu berbagai penelitian serupa di berbagai penjuru dunia. Studi HARVEST merupakan tahap akhir (uji klinik fase 3) dari konfirmasi hasil penelitian sebelumnya.
Studi HARVEST bertujuan menjawab pertanyaan penting: apakah pemberian rifampisin dengan dosis tinggi dapat lebih menyelamatkan orang dengan sakit Meningitis TB dari kematian (dibanding rifampisin dosis standar)? Hasil penelitian ini telah dipublikasikan tanggal 18 Desember di New England Journal of Medicine (NEJM), salah satu jurnal kedokteran paling terkemuka di dunia.
“Ada tiga pilar yang menjadi pegangan peniliti dan klinisi untuk memperbaiki luaran penyakit ini,” ujar dr. Ahmad Rizal Ganiem, SpS(K), PhD, Peneliti Utama di RS Hasan Sadikin dan peneliti di Departemen Neurologi FK Unpad. “Selain memperbaiki cara diagnosis dan mengatasi komplikasi, memberikan anti TB yang tepat waktu dan tepat dosis menjadi suatu hal yang krusial,” lanjut dr. Ahmad Rizal Ganiem.
Prof. dr. Rovina Ruslami, SpPD, PhD, dari Departemen Ilmu Kedokteran Dasar, FK Unpad, yang merupakan salah satu Peneliti Utama studi multi nasional dan multi senter ini menambahkan, “Meningitis TB sering kali tidak terdiagnosis, dan bahkan ketika sudah dikenali, pengobatannya masih belum optimal, dengan angka kematian yang tetap tinggi. Dengan memanfaatkan obat TB yang sudah ada saat ini, mampukah kita mengobati Meningits TB dengan lebih baik?” Beliau menambahkan “Salah satu tantangan utama adalah obat yang digunakan untuk TB paru tidak mencapai otak secara efektif. Karena itulah uji HARVEST sangat penting untuk menghasilkan bukti ilmiah dalam pengobati pasien dengan penyakit yang sangat berat ini.”
Secara keseluruhan, 499 pasien Meningitis TB dewasa direkrut di sembilan rumah sakit di tiga negara (Uganda, Afrika Selatan, dan Indonesia). Di Indonesia, uji klinik ini dilaksanakan di RS Hasan Sadikin, RS Cibabat, dan RS Immanuel di Bandung, serta RS Cipto Mangunkusumo dan RS Polri di Jakarta. Indonesia berkontribusi sebanyak 193 partisipan penelitian.
Sekitar 60% partisipan hidup dengan HIV, dan sebagian besar sudah dalam kondisi berat/kritis saat masuk penelitian. Seluruh partisipan penelitian menerima rifampisin dosis tinggi (sekitar tiga kali dosis standar) atau dosis standar (yang biasa digunakan), selama delapan minggu pertama pengobatan, yang ditentukan secara acak. Selain rifampisin, seluruh partisipan juga mendapatkan obat TB lainnya serta kortikosteroid sesuai standar pengobatan Meningitis TB.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: dibanding rifampisisn dosis standar, penggunaan rifampisin dosis tinggi tidak lebih menyelamatkan orang dengan Meningitis TB dari kematian. Setelah enam bulan pengobatan, tidak terdapat perbedaan angka kematian pada kedua kelompok. Hasil ini mengecewakan – tidak hanya tim peneliti HARVEST – namun dunia penelitian Tuberkulosis secara global. Para peneliti masih perlu bekerja keras lagi untuk menemukan pengobatan Meningitis TB yang lebih baik. Namun demikian, temuan tersebut telah memberikan bukti yang jelas dan penting untuk memandu pedoman pengobatan Meningitis TB secara global, serta mencegah pasien terpapar dosis obat yang lebih tinggi tanpa manfaat tambahan.
“Mengetahui apa yang tidak efektif sama pentingnya dengan mengetahui apa yang efektif,”
kata Dr. Darma Imran, Peneliti Utama di RS Cipto Mangunkusumo dan peneliti di Departemen Neurologi FKUI. “Hasil ini membantu dokter menghindari terapi yang menambah risiko tanpa manfaat, sekaligus memperkuat dasar ilmiah untuk memperbaiki pelayanan pasien meningitis TB.”
Lebih dari sekadar hasil klinis, studi HARVEST juga menunjukkan kapasitas Indonesia yang semakin kuat dalam menyelenggarakan uji klinis berskala besar dengan standar internasional. Studi HARVEST melibatkan berbagai Rumah Sakit lainnya (RS Cibabat dan RS Immanuel di Bandung, dan RS Polri di Jakarta) yang membuktikan bahwa walau RS ini bukan RS pendidikan, namun juga mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui penelitian berskala dan dengan standar internasional.
“OUCRU Indonesia bangga dapat bekerja bersama rumah sakit, universitas, dan institusi nasional untuk menghasilkan penelitian yang berdampak global,” ujar Prof. Raph Hamers, Kepala Program Riset Penyakit Infeksi Klinis OUCRU Indonesia. “HARVEST mencerminkan model kolaborasi dimana penelitian yang digerakkan secara lokal dapat secara langsung mempengaruhi standar perawatan internasional.”
Studi HARVEST menegaskan bahwa Indonesia mampu memimpin dan melaksanakan uji klinik besar berskala internasional (multinasional) dengan kualitas tinggi dengan dampak global, sekaligus berkontribusi dalam pembentukan standar perawatan internasional untuk Meningitis tuberkulosis.
—
Tentang Studi HARVEST
Studi HARVEST merupakan uji klinik fase 3 berskala internasional, acak, tersamar ganda, menggunakan kontrol plasebo yang dilaksanakan di sembilan rumah sakit di Indonesia (Bandung dan Jakarta), Afrika Selatan (Durban), dan Uganda (Kampala). Uji klinik ini dilakukan melalui kolaborasi dengan mitra internasional, termasuk Radboudumc, Nejmegen, Belanda dan University of Minnesota di Amerika Serikat. Studi HARVEST dipimpin oleh Prof. Rovina Ruslami dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia, dan Prof. David Meya dari Infectious Diseases Institute, Makerere University, Uganda. Penelitian ini didanai oleh UK Medical Research Council melalui program Joint Global Health Trials.
Link untuk melihat video tentang studi HARVEST: https://www.nejm.org/do/10.1056/NEJMdo008301/full/
Link untuk melihat artikel Lancet ID (2013) dan NEJM (2025):
https://repository.unpad.ac.id/handle/kandaga/419
https://repository.unpad.ac.id/handle/kandaga/420
https://repository.unpad.ac.id/handle/kandaga/421 (summary)
The post Unpad, UI, dan OUCRU Selesaikan Studi HARVEST, Uji Klinik Multi Senter dan Multinasional untuk Tuberkulosis Otak appeared first on Universitas Padjadjaran.
