



[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan tujuh Guru Besar baru yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Keperawatan, dan Fakultas Psikologi pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar Unpad di Grha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Kamis, 11 Desember 2025. Pengukuhan tersebut dibuka oleh Rektor Unpad Prof. Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, dan kata pengantar oleh Ketua Dewan Profesor Unpad Prof. Atwar Bajari.
Guru Besar yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Dr. Hilmiana, S.E., MBA., Prof. Dr. Bayu Kharisma, S.E., M.M., M.E., Prof. Alfiah Hasanah, S.E., M.Ec., Ph.D., Prof. Syariful Mubarok, S.P., M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Hendra Dian Adhita Dharsono, drg.,Sp.KG., Subsp.KE., Prof. Cecep Eli Kosasih, S.Kp., MNS. Ph.D., dan Prof. Dr. Anissa Lestari Kadiyono, M.Psi. Psikolog.
Guru Besar bidang Ilmu Manajemen dan Organisasi Prof. Dr. Hilmiana, S.E., MBA., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Membangun Kinerja Dosen melalui Responsible Leadership: Tinjauan Model Capacity, Willingness, dan Opportunity (CWO) dalam Pendidikan Tinggi di Indonesia”. Prof. Hilmiana menjelaskan bahwa kinerja dosen memiliki urgensi yang tinggi karena kualitas pembelajaran, inovasi penelitian, serta kontribusi sosial. Prof. Hilmiana menegaskan pentingnya melihat kinerja dosen sebagai hasil sinergi antara sumber daya yang tersedia, kemampuan personal, dan dorongan psikologis dalam menghadapi tantangan globalisasi dan transformasi pendidikan tinggi.
“Secara umum kepemimpinan bertanggung jawab merupakan faktor penting dalam meningkatkan kinerja dosen di Indonesia, karena kepemimpinan yang melibatkan dosen dalam pengambilan keputusan mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi. Dalam hal ini, capacity terbukti menjadi mediator yang efektif, karena peningkatan kompetensi mampu memperkuat pengaruh kepemimpinan terhadap kualitas pengajaran, penelitian, dan keterlibatan sosial,” ujar Prof. Hilmiana.
Guru Besar bidang Ekonomi Pembangunan dan Kelembagaan Prof. Dr. Bayu Kharisma, S.E., M.M., M.E., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Peran Internet dalam Membangun Modal Sosial di Era Digital”. Prof. Bayu menyampaikan bahwa pada era digital saat ini keberadaan internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari dan tidak lagi menjadi hal yang eksklusif. Dalam hal ini, internet memiliki pengaruh positif terhadap interaksi sosial, seperti mencari pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, status sosial, kesejahteraan, integrasi sosial, pengelolaan sumber daya bersama lebih baik, hingga pengentasan kemiskinan.
“Kontribusi keilmuan yang dapat saya berikan dalam bidang ilmu ini secara ringkas adalah memperluas konsep institusi ke ranah digital, mengurangi biaya untuk mencari informasi, berkomunikasi, dan berkoordinasi, memperluas bridging social capital atau menjembatani hubungan dengan kelompok yang berbeda, peran institusi informal dalam ruang digital, serta analisis ketimpangan akses sebagai “Institutional Failure“,” jelas Prof. Bayu.
Guru Besar bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesehatan Prof. Alfiah Hasanah, S.E., M.Ec., Ph.D., menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Keberagaman Pangan sebagai Landasan Keseharan dan Ketahanan Ekonomi Keluarga”. Prof. Alfiah memaparkan bahwa dietary diversity menjadi indikator kunci yang tidak hanya menggambarkan kualitas asupan nutrisi, tetapi juga berkaitan erat dengan kapasitas imunitas dan risiko sakit. Fenomena tersebut menunjukkan adanya tantangan struktural dalam pemenuhan kebutuhan gizi pada keluarga berpendapatan rendah yang dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi yang signifikan bagi rumah tangga dan pemerintah.
“Persoalan keberagaman pangan tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga pada efisiensi penggunaan anggaran negara serta keberlanjutan sistem perlindungan sosial. Keberagaman pangan merupakan landasan strategis bagi pembangunan kualitas kesehatan anak dan ketahanan ekonomi keluarga. Peningkatan literasi gizi, perbaikan akses pangan bergizi, dan kebijakan gizi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat berpendapatan rendah adalah langkah penting untuk menciptakan generasi yang sehat, produktif, dan resilien,” ujar Prof. Alfiah.
Guru Besar bidang Ilmu Fisiologi Tanaman dan Pascapanen Hortikultura Prof. Syariful Mubarok, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Pascapanen Komoditas Hortikultura Melalui Rekayasa Hormonal”. Prof. Syariful mejelaskan bahwa bahwa fenomena pemanasan global menyebabkan penurunan produktivitas tanaman melalui tingginya guran bunga, meningkatkan tingkat sterilitas sel reproduktif dan polen, serta menghambat pertumbuhan gamet dan buah. Untuk mengatasi berbagai masalah dalam mengatasi penurunan produktivitas tanaman akibat global warming, maka dapat dilakukan diantaranya dengan pengembangan tomat tahan panas dan aplikasi hormon tumbuhan/zat pengatur tumbuh (ZPT) dan modifikasi lingkungan tumbuh.
“Untuk mengatasi permasalahan penurunan produktivitas pada komoditas hortikultura dapat dilakukan dengan pemanfaatan tomat iaa9-3 dan iaa9-5 sebagai material genetik untuk proses pemuliaan tanaman dalam menghasilkan varietas unggul baru yang tahan cekaman suhu tinggi, serta aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) dan modifikasi lingkungan tumbuh dapat digunakan sebagai salah satu teknik budidaya tanaman untuk meningkatkan produktivitas komoditas hortikultura,” ungkap Prof. Syariful.
Guru Besar bidang Konservasi Gigi Prof. Dr. Hendra Dia Adhita Dharsono, drg.,Sp.KG., Subsp.KE., menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Material Bioaktif dan Preservasi: Masa Depan Endodontik Indonesia”. Prof. Hendra memaparkan bahwa pengembangan material endodontik dengan mempertimbangkan aspek efektivitas biologis, keamanan jangka panjang, keberlanjutan ekologis, dan kemandirian industri kesehatan nasional diperlukan untuk menghasilkan solusi yang sesuai dengan profil pasien Indonesia. Oleh karena itu, perkembangan terkini material bioaktif dalam endodontik memberikan perspektif strategis mengenai arah masa depan terapi preservatif dalam perawatan endodontik.
“Masa depan endodontik Indonesia bertumpu pada integrasi dua pilar material bioaktif, yaitu bahan hayati dan bahan non-hayati. Dalam hal ini pengembangan α-TCP menawarkan stabilitas serta kemampuan regeneratif yang terukur. Keduanya bukanlah pendekatan yang terpisah, tetapi fondasi komplementer bagi praktik preservasi pulpa modern. Potensi besar bahan alam perlu diiringi biomaterial yang konsisten dan dapat diproduksi mandiri. Dengan demikian, masa depan endodontik Indonesia tidak berhenti pada pemanfaatan bahan alam yang kaya, tetapi bergerak menuju inovasi biomaterial regeneratif yang memadukan kekuatan hayati dan non-hayati sebagai salah satu jembatan strategis menuju kemandirian material medis nasional,” jelas Prof. Hendra.
Guru Besar bidang Ilmu Keperawatan Kritis Prof. Cecep Eli Kosasih, S.Kp., MNS. Ph.D., menyampaikan paparan keilmuan yang berjudul “Revitalisasi Peran Perawat Kritis di Area Intensive Care: Tantangan, Arah Kebijakan, dan Solusi Permasalahan di ICU”. Prof. Cecep menyampaikan bahwa peran perawat kritis tidak dapat dipisahkan dari kualitas outcome pasien ICU. Tanpa kompetensi perawatan kritis yang kuat, fasilitas ICU tidak akan mampu memberikan layanan yang aman, efektif, dan responsif terhadap kondisi pasien yang sangat dinamis. Oleh karena itu, investasi pada pendidikan, pelatihan, dan pengembangan profesional perawat kritis merupakan fondasi utama peningkatan mutu layanan ICU.
“Permasalahan di ICU mulai dari kekurangan tenaga perawat kritis, tingginya beban kerja, variasi kompetensi, keterbatasan teknologi, hingga isu keselamatan pasien, menuntut respons kebijakan yang kuat, terukur, dan berorientasi pada peningkatan mutu layanan. Revitalisasi ICU tidak dapat berjalan hanya melalui upaya klinis, tetapi memerlukan dukungan kebijakan sistem kesehatan yang menyeluruh, mulai dari level rumah sakit hingga level pemerintah nasional. Secara keseluruhan, arah kebijakan yang efektif harus mengintegrasikan penguatan SDM perawat kritis, pembangunan sistem patient safety dan mutu layanan ICU, pemanfaatan teknologi digital dan tele-ICU, serta investasi pendanaan dan infrastruktur yang berkelanjutan,” ujar Prof. Cecep.
Guru Besar bidang Ilmu Psikologi Organisasi dan Bisnis Prof. Dr. Anissa Lestari Kadiyono, M.Psi. Psikolog., menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Peran Human Capital dalam Membangun Perilaku Organisasi Positif, Daya Saing Organisasi, dan Kinerja Kewirausahaan di Era Transformasi Digital”. Prof. Anissa menjelaskan bahwa kualitas human capital, baik pada level individu, kelompok, maupun organisasi, menentukan perilaku positif, daya saing, dan keberhasilan kinerja di era transformasi digital. Dalam hal ini, human capital yang menentukan bagaimana suatu usaha dapat adaptif dan bertahan dalam situasi yang berubah.
“Human capital adalah fondasi seluruh bentuk perilaku positif, daya saing organisasi, dan keberhasilan kewirausahaan. Human capital memainkan peran sentral dalam memprediksi perilaku positif dan kinerja, baik dalam organisasi maupun dalam usaha mikro dan menengah. Semoga paparan keilmuan ini menjadi kontribusi yang bermakna bagi dunia psikologi, organisasi, bisnis, dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Hanya dengan SDM yang memiliki modal psikologis kuat dan adaptif teknologi, kita dapat mengubah ancaman disrupsi menjadi peluang emas bagi masa depan bangsa,” ungkap Prof. Anissa.*
Buku Paparan Keilmuan:
- Prof. Dr. Hilmiana, S.E., MBA.
- Prof. Dr. Bayu Kharisma, S.E., M.M., M.E.
- Prof. Alfiah Hasanah, S.E., M.Ec., Ph.D.
- Prof. Syariful Mubarok, S.P., M.Sc., Ph.D.
- Prof. Dr. Hendra Dian Adhita Dharsono, drg.,Sp.KG., Subsp.KE.
- Prof. Cecep Eli Kosasih, S.Kp., MNS. Ph.D.
- Prof. Dr. Anissa Lestari Kadiyono, M.Psi. Psikolog.









(Foto oleh: Jalasenastri Saprala dan Dadan Triawan)*
The post Universitas Padjadjaran Kukuhkan Tujuh Guru Besar Baru dari Lima Fakultas appeared first on Universitas Padjadjaran.
