
[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran kembali menggelar Festival Budaya, sebuah kegiatan tahunan berupa pementasan berbagai budaya di dunia disertai pameran dan bazaar. Festival yang rutin diselenggarakan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) pada tahun ini mengangkat tema “Echoes of the Soil: Roots in Motion, Harmonizing Voices Under a Borderless Sky“. Acara diselenggarakan pada Kamis (25/6) di Parkiran Balé Santika, Kampus Unpad Jatinangor.
Festival Budaya merupakan project akhir mahasiswa S1 Fikom peserta mata kuliah Komunikasi Lintas Budaya. Di tahun ini, festival diikuti oleh 33 kelompok mahasiswa yang masing-masing mempresentasikan kebudayaan khas dari negara berbeda satu dengan yang lain.
Kegiatan ini dibuka oleh Rektor Unpad, Prof. Arief S. Kartasasmita didampingi Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Dr. Nindi Aristi, S.Sos., M.Comn. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasinya terhadap kreativitas mahasiswa untuk menghayati budaya dan memahami perbedaan budaya di dunia. Pemahaman tersebut dapat menjadi inspirasi untuk terus memperkaya wawasan dan berperan sebagai agen perubahan di masa depan.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk senantiasa menghargai perbedaan budaya di lingkungan kampus sebagai bagian dari upaya merawat kemanusiaan dan memperkuat nilai inklusivitas yang dikembangkan di Unpad.
“Jadi ke depan tidak boleh ada lagi perbedaan-perbedaan yang menghambat ketika kita berinteraksi, dan mudah-mudahan perbedaan-perbedaan ini dapat kita manfaatkan khususnya untuk dapat merawat perdamaian dunia,” tambah Prof. Arief saat menyempatkan diri berkeliling stand-stand budaya peserta festival.
Pementasan budaya menampilkan pertunjukan dengan berbagai kreativitas seperti kabaret, drama, dan tarian khas. Dalam satu pementasan ditampilkan dua kelompok budaya berbeda yang harus membuat alur cerita dan menunjukkan kesalahpahaman antar budaya beserta solusinya. Presentasi budaya ini dibuat melalui riset untuk mengetahui bentuk tradisi dan kebiasaan masing-masing budaya. Hasil riset tersebut dipresentasikan melalui kostum, dekorasi, dan gaya berbicara.
Guru Besar Fikom Unpad, Prof. Deddy Mulyana, MA, Ph.D. yang juga pemrakarsa festival budaya ini menyatakan, komunikasi lintas budaya menjadi penting mengingat perkembangan peradaban dan teknologi yang ada telah membuat budaya-budaya semakin beragam sehingga perlu ada kajian yang dapat meningkatkan pemahaman, toleransi serta keterampilan untuk beradaptasi.
“Ini tidak berarti bahwa kita mengikuti budaya lain secara serampangan, seperti bunglon yang meniru dan mempraktekan budaya lain meskipun bertentangan dengan budaya kita. Tapi kita bisa mencari titik tengah pertemuan (untuk) saling menghargai yang tidak mengorbankan nilai-nilai budaya utama yang kita anut,” jelas Prof. Deddy.
Di festival tahun ini, budaya yang ditampilkan berasal dari negara-negara di luar Indonesia, di antaranya dari Brazil, Jepang, Argentina, India, dan beberapa negara lainnya. Ini merupakan tantangan tersendiri karena peserta bukan benar-benar penduduk negara yang mereka tampilkan. Hasilnya, setiap kelompok berupaya untuk tampil kreatif dengan properti yang sebagian besar dibuat sendiri untuk mendekati properti sesungguhnya. Kreativitas ini yang membuat festival menjadi semarak serta menyenangkan untuk diikuti.
Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Deddy yang menjadikan alasan kesenangan mahasiswa sebagai salah satu dampak dilaksanakannya festival ini.
“Mudah-mudahan setelah acara ini selesai, secara jangka pendek mereka merasa senang, bahwa mata kuliah komunikasi lintas budaya itu enjoyable, ada aspek yang fun dan bisa dinikmati. Biasanya itu yang akan diingat lama. Tapi tentu ada jangka panjangnya, yaitu untuk bisa sukses mereka perlu untuk dapat beradaptasi dengan budaya-budaya lainnya,” pungkasnya.* (Rilis oleh: Fikom Unpad)












The post Festival Budaya 2026, Inspirasi Merawat Kemanusiaan dan Memperkuat Inklusivitas appeared first on Universitas Padjadjaran.
