
[Kanal Media Unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan delapan Guru Besar baru dari empat fakultas, yaitu Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik Geologi, Fakultas Peternakan, dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dalam acara Pengukuhan Jabatan Guru Besar yang digelar di Graha Sanusi Hardjadinata, Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ketua Senat Akademik Unpad, Prof. Dr. Yoni Syukriani.
Delapan Guru Besar tersebut adalah Prof. Dr. Ir. H. Wahyu Daradjat Natawigena, M. Si., Prof. Dr. Ir. Mohamad Sapari Dwi Hadian, S.T., M.T., Prof. Ir. H. Dicky Muslim, M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Heni Indrijani, S. Pt., M.Si., IPU., Prof. Ir. Indrawati Yudha Asmara, S.Pt., M., Ph.D., Prof. Dr. Ir. Mansyur, S.Pt., M.Si., IPM., ASEAN Eng., Prof. Dr. Shabarni Gaffar, S.Si., M.Si., dan Prof. Dr. I Gede Nyoman Mindra Jaya, S.Si., M.Si.
Guru Besar Bidang Vetebrata Hama Prof. Dr. Ir. H. Wahyu Daradjat Natawigena menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Dari Bioteknologi Menuju Inovasi: Rekayasa Rodentisida Multi Aroma dan Rasa dalam Pengendalian Vetebrata Hama”. Prof. Wahyu menyampaikan bahwa pengendalian tikus sebagai vetebrata hama mengalami tantangan, yaitu tikus yang semakin adaptif sehingga menjadi resisten terhadap bahan aktif dan tidak tertarik mengonsumsi umpan yang disediakan. Dalam hal ini, bioekologi mengajarkan bahwa tikus memiliki perilaku makan yang selektif, sensitif terhadap aroma, rasa, dan sangat berhati-hati terhadap sesuatu yang baru atau neofobia.
“Kami mengembangkan inovasi berupa rodentisida dengan multi aroma dan rasa yang dirancang dengan kombinasi bahan berprotein, rasa manis, dan aroma kuat, untuk meningkatkan daya tarik konsumsi. Hasilnya adalah konsumsi umpan racun meningkat, preferensi tikus terhadap umpan beracun meningkat, dan tikus dapat dikendalikan populasinya. Artinya, pendekatan berbasis bioekologi dan perilaku ini terbukti lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan konvensional. Harapannya inovasi ini dapat mendukung efektivitas pengendalian hama sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Prof. Wahyu.
Guru Besar Bidang Geoheritage Prof. Dr. Ir. Mohamad Sapari Dwi Hadian, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “GeoHeritage Indonesia untuk Ketahanan Bangsa: Fondasi Peradaban Berkelanjutan: Dari Laboratorium Alam Dunia Menuju Ketahanan Bangsa di Era Krisis”. Prof. Sapari menyampaikan bahwa geoheritage perlu dilihat sebagai investasi yang harus dikelola sehingga menghasilkan imbal hasil yang nyata, yaitu ketahanan pangan dari tanah vulkanik yang subur, ketahanan bencana dari komunitas yang teredukasi, dan ketahanan ekonomi dari geowisata yang inklusif.
“Geoheritage adalah sumber daya yang tidak dapat diperbarui dan rentan terhadap dampak alam dan antropogenik. Setiap generasi yang tumbuh tanpa mengenal geodiversity tanah airnya adalah generasi yang kehilangan kompas untuk menavigasi masa depannya sendiri. Oleh karena itu, saya mengajak untuk kita sama-sama berkomitmen bahwa ilmu geologi bukan ilmu masa lalu melainkan ilmu masa depan, bahwa geoheritage bukan sekadar batu dan mineral, tetapi fondasi ketahanan bangsa, dan komitmen bahwa cara kita mengelola bumi hari ini adalah cermin dari cara kita mencintai generasi yang akan datang,” jelas Prof. Sapari.
Guru Besar Bidang Kebencanaan Geologi Prof. Ir. H. Dicky Muslim, M.Sc., Ph.D., menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Peran Mitigasi Bencana Geologi dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia Berdisiplin dan Berkarakter Unggul”. Prof. Dicky menjelaskan bahwa pendidikan diharapkan membentuk karakter dan perilaku sadar risiko bencana, serta dapat merancang dan melakukan tindakan yang tepat pada masa sebelum bencana, masa tanggap darurat dan masa setelah bencana, yang dikenal sebagai siklus bencana. Universitas sebagai pilar peradaban berperan sangat penting dalam pengembangan SDM, sehingga melalui pendidikan diharapkan dapat dicapai masyarakat yang sadar risiko, siap siaga, dan tangguh (awareness, preparedness, readiness, resilience) menghadapi aneka potensi bencana.
“Melalui pendekatan Siklus Bencana, penegakkan disiplin dan karakter manusia unggul akan dapat dicapai dengan pelibatan aneka bidang ilmu yang ada di perguruan tinggi. Jika kita cermati program Asta Cita, nampak bahwa cita-cita membangun masyarakat berdisiplin tinggi dan berkarakter unggul dapat dilakukan melalui pendekatan siklus bencana karena secara psikologis berdasar kepada keinginan naluriah menghindari bahaya, rasa takut akan kematian, rasa takut terganggunya kehidupan yang sudah nyaman,” ujar Prof. Dicky.
Guru Besar Bidang Genetika Kuantitatif Ternak Prof. Dr. Ir. Heni Indrijani, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Peran Genetika Kuantitatif dalam Peningkatan Mutu Genetik Ternak”. Prof. Heni menjelaskan bahwa genetika kuantitatif berfokus pada sifat-sifat yang dapat diukur secara kontinyu, seperti contohnya bobot badan, produksi susu, atau jumlah telur. pendekatan statistik untuk mengestimasi parameter genetik, yang menjadi landasan utama dalam melakukan seleksi, serta breeding plan untuk meningkatkan mutu genetik ternak.
“Penerapan genetika kuantitatif menggunakan metode test day record merupakan terobosan dalam pemuliaan sapi perah modern untuk mendapatkan estimasi nilai genetik yang lebih akurat dan efisien. Hal ini memungkinkan untuk meng-identifikasi sapi- sapi unggul lebih tepat, sehingga keputusan seleksi dapat diambil lebih dini tanpa harus menunggu masa laktasi berakhir. Penggunaan big data dari hasil rekoding dan penanda DNA, memungkinkan identifikasi keunggulan genetik secara lebih cepat dan tepat,” jelas Prof. Heni.
Guru Besar Bidang Konservasi dan Pengelolaan Sumber Prof. Ir. Indrawati Y. Asmara menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Ayam Penyanyi di Indonesia: Warisan Budaya dan Tantangan Konservasi”. Prof. Indrawati menjelaskan popularitas ayam penyanyi semakin meningkat seiring dengan berkembangnya kontes dan komunitas di berbagai daerah. Namun, penurunan kualitas kokok, sistem manajemen kesehatan, dan pemeliharaan masih menjadi tantangan konservasi. Dalam hal ini peran pemerintah sangat strategis dan bisa menjadi pelaku utama konservasi dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lain.
“Konservasi sumber daya genetik ternak harus didasarkan pada sistem inventarisasi dan monitoring yang terintegrasi, sehingga memerlukan data yang lengkap seperti data populasi, performa, serta informasi genetik yang terdokumentasi secara berkala. Pendekatan konservasi perlu bertransformasi menuju pendekatan berbasis data untuk memastikan bahwa keragaman genetik, stabilitas populasi, serta nilai biologis dan budaya yang melekat di dalamnya tetap terjaga secara utuh. Selain itu, kerja sama dan pembagian peran pemangku kepentingan menjadi hal yang perlu dioptimalkan,” ujar Prof. Indrawati.
Guru Besar Bidang Produksi Tanaman Pakan dan Sumberdaya lainnya Prof. Dr. Ir. Masyur, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Eksplorasi, Pemanfaatan, dan Penggunaan Rumput Kikuyu (Pennisetum clandestinum) sebagai Hijauan Pakan Berkualitas Tinggi untuk Pengembangan Pangan, Produksi Serum, dan Berkuda di Indonesia”. Prof. Mansyur menjelaskan bahwa performa kuda tidak hanya ditentukan oleh genetik, tetapi juga oleh pakan. Oleh karena itu, rumput kikuyu menawarkan serat efektif untuk kesehatan pencernaan, palatabilitas tinggi, serta energi stabil untuk performa jangka panjang.
“Dengan pendekatan bioeconomy, Kikuyu menjadi bagian dari sistem pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan. Rumput Kikuyu mengajarkan kita satu hal yang sangat mendasar, yaitu bahwa solusi besar sering tersembunyi dalam hal-hal yang kita abaikan. Kini saatnya kita berhenti menjadi konsumen ilmu dan mulai menjadi produsen solusi global. Mari kita jadikan riset sebagai gerakan, inovasi sebagai landasan kebijakan, dan lmu sebagai jalanmenuju kedaulatan bangsa,” jelas Prof. Mansyur.
Guru Besar Bidang Rekayasa Protein dan Bioteknologi Prof. Dr. Shabarni Gaffar, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “Peran Rekayasa Protein dan Bioteknologi untuk Pengembangan Alat Diagnostik”. Prof. Shabarni menyampaikan bahwa rekayasa protein memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja biomolekul utama yang digunakan dalam diagnostik, termasuk enzim, antibodi, dan protein reporter. Rekayasa protein dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu rational design dan direct evolution, sehingga protein dapat direkayasa untuk memperoleh sifat yang diinginkan, seperti peningkatan aktivitas, stabilitas, atau spesifisitas untuk berbagai aplikasi, termasuk diagnostik.
“Melalui pendekatan rational design, directed evolution, serta dukungan teknologi DNA rekombinan, protein dapat dimodifikasi atau direkayasa untuk menghasilkan fungsi yang lebih spesifik, stabil, dan sensitif. Hal ini telah terbukti melalui pengembangan fragmen antibodi rekombinan yang efektif untuk deteksi berbagai biomarker penyakit. Pendekatan ini memberikan peluang besar dalam pengembangan alat diagnostik modern dan kemandirian bioteknologi nasional, termasuk dalam respons terhadap penyakit menular dan pengembangan kit diagnostik yang inovatif dan aplikatif,” jelas Prof. Sharbani.
Guru Besar Bidang Statistika Epidemiologi Prof. Dr. I Gede Nyoman M. Jaya, menyampaikan paparan ilmiah berjudul “ Menuju Sistem Kewaspadaan Dini Epidemiologis yang Cerdas: Integrasi AI dan Bayesian dalam Pemodelan Spasio-Temporal”. Prof. Nyoman menjelaskan bahwa sistem kewaspadaan dini harus mampu mengubah data menjadi peta risiko, probabilitas siaga, dan prioritas intervensi. Oleh karena itu, pendekatan statistika epidemiologi spasio-temporal berbasis Bayesian memungkinkan peminjaman informasi antarwilayah dan waktu, pemodelan hierarkis, serta pengukuran ketidakpastian yang eksplisit. Risiko relatif digunakan untuk menilai tingkat risiko suatu wilayah, sementara exceedance probability menentukan peluang risiko melampaui ambang kewaspadaan sebagai dasar status siaga.
“Ke depan, pengembangan keilmuan ini diarahkan pada sistem kewaspadaan dini epidemiologis yang cerdas, sederhana, dan operasional yang menekankan pemanfaatan data multi-sumber meliputi data kasus, mobilitas, sosial ekonomi, lingkungan, dan layanan kesehatan yang diolah menjadi sistem peringatan dini, penentuan prioritas wilayah, serta rekomendasi intervensi yang siap digunakan. Seluruh informasi diintegrasikan dalam dashboard pemantauan real-time untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat, adaptif, dan berbasis data,” jelas Prof. Nyoman.* (R02)
Buku Paparan Keilmuan:
- Prof. Dr. Ir. H. Wahyu Daradjat Natawigena, M. Si.
- Prof. Dr. Ir. Mohamad Sapari Dwi Hadian, S.T., M.T.
- Prof. Ir. H. Dicky Muslim, M.Sc., Ph.D.
- Prof. Dr. Ir. Heni Indrijani, S. Pt., M.Si., IPU.
- Prof. Ir. Indrawati Y. Asmara, S.Pt., M., Ph.D.
- Prof. Dr. Ir. Mansyur, S.Pt., M.Si., IPM., ASEAN Eng.
- Prof. Dr. Shabarni Gaffar, S.Si., M.Si.
- Prof. Dr. I Gede Nyoman Mindra Jaya, S.Si., M.Si.









The post Universitas Padjadjaran Kukuhkan Delapan Guru Besar dari Empat Fakultas appeared first on Universitas Padjadjaran.
