









[Kanal Media Unpad] Staf peneliti Center for Environment and Sustainability Science (CESS) Universitas Padjadjaran (Unpad) yang juga Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, Dr. Gemilang Lara Utama S., S.Pt., M.I.L., berbagi pengalaman dalam Workshop Final Integrated Study on Urban Agriculture as Heritage (INSUAH) 2026 yang diselenggarakan di Havana, Kuba pada 9–14 Februari 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proyek internasional INSUAH yang didanai oleh Volkswagen Foundation dan melibatkan berbagai kota di dunia dalam upaya melestarikan dan mengembangkan pertanian perkotaan berbasis warisan budaya. Proyek INSUAH sendiri bertujuan untuk mempromosikan pertanian perkotaan sebagai warisan hidup yang memiliki nilai ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya, serta sebagai pendekatan inovatif dalam transformasi kota menuju keberlanjutan. Studi kasus yang terlibat berasal dari lima living laboratory di dunia, yaitu São Paulo, Havana, Nürnberg–Bamberg, Tokyo, dan Bandung.
Pada forum tersebut, Dr. Gemilang membagikan pengalamannya bersama Tim Peneliti yang dipimpin Prof. Oekan S. Abdoellah, Ph.D. dalam mengembangkan Living Lab pertanian perkotaan berbasis warisan budaya Sunda sebagai strategi ketahanan pangan, adaptasi perubahan iklim, dan pembangunan kota berkelanjutan.
Dalam paparannya, Dr. Gemilang menyoroti dampak urbanisasi cepat di Kota Bandung yang menyebabkan berkurangnya ruang hijau, meningkatnya polusi, serta menghilangnya sistem pertanian tradisional. Kondisi ini membuat kota sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar wilayah, dengan sekitar 96% kebutuhan pangan berasal dari daerah lain.
Sebagai respons terhadap kerentanan tersebut, Unpad mengembangkan model Living Lab yang mengintegrasikan praktik pertanian tradisional dengan inovasi modern berbasis komunitas. Model ini memanfaatkan sistem pekarangan dan kebon talun sebagai fondasi agroekologi yang menghubungkan kawasan perkotaan, peri-urban, dan pedesaan dalam satu sistem pangan regional yang saling ketergantungan.
Pekarangan berfungsi sebagai unit produksi mikro yang tersebar luas di permukiman kota. Selain menyediakan pangan bagi rumah tangga, sistem ini juga mendukung sirkularitas sumber daya, konservasi keanekaragaman hayati, serta pelestarian pengetahuan dan budaya pangan lokal. Sementara itu, kebon talun berperan sebagai penghubung skala lanskap yang menjaga fungsi ekologis penting seperti perlindungan sumber air, pengendalian erosi, dan penyimpanan karbon.
Dalam workshop tersebut juga diperkenalkan Bandung Urban Agriculture Heritage (BUAH) the Living Lab sebagai implementasi nyata di Bandung yang mengintegrasikan produksi pangan, pengelolaan limbah organik, edukasi sekolah, serta penguatan rantai pasok lokal. Melalui pendekatan berbasis warisan budaya, produksi pangan pada pertanian perkotaan diarahkan tidak hanya pada komoditas sayuran, tetapi juga pada sumber protein lokal seperti ikan, telur, dan kacang-kacangan guna meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan juga pentingnya penanaman vegetasi multi strata sebagai aksi mitigasi perubahan iklim di area perkotaan.
Pengembangan Living Lab pertanian perkotaan berbasis warisan budaya oleh Universitas Padjadjaran di Kota Bandung memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan). Melalui integrasi sistem pekarangan dan kebon talun, model ini meningkatkan ketersediaan pangan lokal bergizi, memperkuat ketahanan kota terhadap krisis, mendorong sirkularitas sumber daya melalui pengelolaan limbah organik, serta menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Selain itu, pendekatan living lab yang melibatkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat juga mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), menjadikannya contoh praktik pembangunan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus berakar pada budaya lokal.
Workshop Final INSUAH 2026 menjadi ajang penting pertukaran pengetahuan antar kota dunia. Setiap lokasi menghadirkan praktik pertanian perkotaan yang unik dan berakar pada budaya lokal masing-masing, termasuk sistem organoponik di Havana yang berkembang pesat sejak krisis ekonomi 1990-an.
Partisipasi dalam forum ini memperkuat posisi Universitas Padjadjaran sebagai institusi yang berkontribusi aktif dalam agenda global pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam transformasi sistem pangan perkotaan berbasis pengetahuan lokal. Dr. Gemilang menegaskan bahwa ketahanan pangan perkotaan tidak dapat dilepaskan dari pelestarian warisan budaya dan keterlibatan masyarakat. BUAH the Living Lab menjadi ruang kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan komunitas untuk merancang solusi yang adaptif terhadap perubahan iklim, urbanisasi, dan tantangan sosial ekonomi.
Keikutsertaan ini diharapkan dapat membuka peluang kerja sama internasional, memperkuat jejaring riset global, serta mendorong implementasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan untuk pembangunan kota yang berkelanjutan dan berketahanan.* (Rilis oleh: Humas FTIP Unpad)
The post FTIP Unpad Promosikan Sistem Pangan Perkotaan Berbasis Warisan Budaya di Tingkat Internasional appeared first on Universitas Padjadjaran.
